Dion Ramadhan January 8, 2026

Belakangan ini, bicara soal kendaraan listrik jadi makin ngetren. Mobil atau motor listrik sering dibilang sebagai jawaban buat masalah polusi, karena gak ada asap knalpot yang keluar kayak kendaraan bensin atau solar. Banyak yang mikir, “Ya jelas dong, pakai kendaraan listrik pasti lebih bersih dan sehat, kan?” Eits, jangan buru-buru ya. Jawabannya sih iya, tapi gak sesimplenya itu, lho. Soalnya, ada pertanyaan yang suka banget terlewat: listrik buat nge-charge kendaraan listrik itu asalnya dari mana, sih?

Kendaraan Listrik emang gak pakai bensin. Mesin gak perlu bakar bahan bakar, jadi nggak ada asap yang keluar dari knalpotnya. Kalau dipakai sehari-hari, emang jelas lebih bersih, apalagi di kota-kota yang udaranya udah cemong polusi. Tapi, listrik yang dipakai buat nge-charge baterai itu kan gak datang dari angin, ya? Listrik itu hasil produksi pembangkit listrik dulu, terus disalurkin ke rumah, kantor, atau stasiun charging.

Nah, di titik inilah sebenernya ada hal yang menarik. Di Indonesia, hampir sebagian besar listrik yang kita pakai masih berasal dari pembangkit listrik tenaga uap yang bahan bakarnya batu bara. Ya, batu bara itu sumber energi fosil yang kalo dibakar bakal ngeluarin karbon dioksida (CO₂), polusi udara yang nggak sehat, dan tentu saja, efek negatif buat lingkungan kita. Memang ada wilayah yang udah pakai arus air tenaga pembangkit listrik, tapi PLTU masih mendominasi sumber pembangkit listrik di indonesia.

Jadi intinya, meskipun kendaraan listrik gak ‘ngebul’ di jalan, asapnya itu cuma bergeser tempat, dari jalanan ke pembangkit listrik.

Terus, apakah kendaraan listrik itu nggak ramah lingkungan? Enggak juga, kok. Ini sering salah paham, sih. Kendaraan listrik punya banyak keuntungan dibanding kendaraan biasa, seperti:

  1. Gak ngeluarin polusi langsung di jalanan yang malah mengurangi polusi di tengah kota meskipun polusi global masih ada.
  2. Suaranya lebih hening, bisa mengurangi polusi suara yang bikin kota berkesan sumpek.
  3. Lebih hemat energi, yang justru mengamankan posisi sumber energi agar tidak cepat habis.

Tapi, seberapa ‘hijau’ kendaraan listrik ini sebenarnya sangat bergantung sama sumber listriknya. Kalau listriknya dari energi bersih, misalnya air, matahari, atau angin, baru deh lingkungan jadi lebih aman. Kalau masih dari batu bara, ya manfaatnya belum maksimal banget.

Bayangin aja gini: kendaraan listrik itu kayak kipas angin yang bersih, tapi colokannya masih nyambung ke genset yang berasap. Sama aja bohong? Bisa jadi.

Indonesia sebenarnya punya banyak potensi energi terbarukan, lho, seperti tenaga air, panas bumi, tenaga surya, dan tenaga angin. Sayangnya, penggunaannya masih belum seberapa. Faktor biaya awal yang mahal, infrastruktur yang belum merata, dan ketergantungan lama pada batu bara bikin transisinya agak tersendat. Karena udah kebiasa pakai batu bara, jadinya sudah nyaman jika harus cepat-cepat melakukan perubahan. Apalagi prosesnya emang nggak pernah dekat dengan kata instan.

Jadinya, kondisi kendaraan listrik di Indonesia jadi unik deh: kendaraannya modern dan canggih, tapi sumber listriknya masih ‘kuno’.

Terus, apa berarti pakai kendaraan listrik itu nggak ada gunanya? Sama sekali nggak! Justru kendaraan listrik ini langkah awal yang penting, bukan solusi instan. Kenapa? Karena mengganti sumber listrik di pembangkit listrik jauh lebih praktis daripada harus ganti jutaan kendaraan satu per satu. Infrastruktur kendaraan listrik juga bisa makin berkembang sambil kita beralih ke energi bersih. Jadi, kalau listrik kita makin hijau, kendaraan listrik otomatis makin ramah lingkungan juga.

Pokoknya, kendaraan listrik itu semacam investasi jangka panjang buat masa depan yang lebih baik.

Oh iya, ada fakta lain yang jarang dibahas nih: kendaraan bensin jelas bikin polusi di tempat kita sehari-hari bernapas, sementara pembangkit listrik batu bara biasanya ada di luar kota, jauh dari pemukiman. Jadi meskipun dua-duanya polusi, dampaknya ke kesehatan orang kota itu beda banget.

Kendaraan listrik membantu banget buat ngurangin polusi lokal, meski polusi globalnya masih harus diperjuangin bareng-bareng. Jadi sebagai permulaan bisa dilakukan dengan mengurangi polusi di wilayah padat penduduk dulu sambil pelan-pelan ganti sumber energinya menjadi energi yang lebih ramah lingkungan.

Category: